Friday, December 10, 2010

Esai Tentang Tomat

Waktu itu dosen gue cerita tentang kunjungan beliau dan temennya ke sebuah kebun tomat, atau apalah namanya yang jelas banyak petani yang nanem tomat. Mereka harus make baju yang bener-bener tertutup soalnya pestisida yang disemprotin ke setiap tomat cukup banyak dan berbahaya, petani-petani disana juga make baju begitu. Lalu terjadilah percakapan berikut antara petani tomat dan temen dosen gue (atau kurang lebih begini, gue agak lupa:

Temen Dosen Gue (TDG): “Bapak makan tomatnya juga?”
Petani Tomat (PT): Ketawa. “Enggak atuh, Pak, saya mah tau ini pestisidanya banyak, bahaya, masa saya makan.”
TDG: “Tapi kalo masak di rumah, pake tomat nggak?”
PT: “Pake.”
TDG: “Loh? Trus beli dimana tomatnya?”
PT: “Di pasar, Pak.”
TDG: “Yang di pasar pestisidanya nggak banyak?”
PT: “Sama aja atuh, Pak, banyak juga.”
TDG: Bingung.
PT: “Tapi seenggaknya kan saya nggak ngeliat prosesnya, Pak, tinggal makan. Jadi ketakutan sama bahaya pestisidanya nggak terasa.”

Setelah dosen gue cerita, anak-anak sekelas ketawa. Tanpa sadar mereka lagi menertawakan diri mereka sendiri; gue juga ikut ketawa which is gue juga menertawakan diri gue. Kadang kita sering lari dari masalah, menutup mata dan telinga lalu voila! Masalah itu seolah-olah hilang.

Mungkin cara menutup mata dan telinga memang salah, tapi nggak sepenuhnya. Karena kadang gue suka ngerasa kalo masalah timbul justru karna kita terlalu membesar-besarkan hal yang sepele. Kayak misalnya, lo mau ngelupain rasa sayang lo sama seseorang, uhuk, trus lo malah maksain diri lo untuk nutup mata dan telinga dari semua hal yang berbau dia. Tapi jadinya malah makin nggak karuan kan? Tapi kalo lo membiarkan mata dan telinga lo tertutup tanpa dipaksa, lo pasti bisa ngedapetin tujuan lo.

That’s just a sample loh, bukan curcol, dan maaf kalo ada yang tersindir dengan contoh itu hahaha. Kalo kata Spice Girls, “Too much of something is bad enough.” Iya, agak nggak nyambung memang.

Love,
Anggie.

No comments:

Post a Comment