Friday, March 25, 2011

Beberapa orang takut untuk bahagia.

Mereka takut melukai dirinya sendiri dengan cara, ya, bahagia. Karena mereka tau, kebahagiaan itu nggak akan selamanya jadi milik mereka; maka saat kebahagiaan itu melampaui batas lalu tiba-tiba hilang, jgeeer! Ya, lo tau lah rasanya.

Anggaplah lo ikut ujian masuk universitas yang paling lo pengenin. Beberapa hari setelahnya, temen lo dateng dan bilang kalo lo diterima dengan skor yang memuaskan. Dan mungkin lo akan bilang, “Ah, enggak, nggak mungkin gue diterima.” Padahal lo tau kalo temen lo itu baru aja ngeliat papan pengumuman. (Jadul abis, sekarang pake internet kali, Nge.)

Atau, saat sahabat dari gebetan lo tiba-tiba dateng dan bilang, “Dia suka sama lo, dari lama,” dan lo nggak mau percaya. Padahal jelas-jelas orang itu ngesmsin lo terus, dan mungkin ada beberapa bukti konkret lainnya, tapi dalam hati lo malah berusaha melindungi diri dengan menjejalkan pikiran negatif ke dalam otak lo seperti, “Dia ngesms kayak gitu ke semua orang kok, bukan gue doang.”

Padahal, menurut gue, saat lo memaksa diri untuk menolak kebahagiaan, secara nggak langsung─dan pada saat yang bersamaanlo kehilangan kebahagiaan itu sendiri.

Dan, ya, gue salah satu dari mereka, orang-orang yang takut untuk bahagia.