Saturday, May 21, 2011

Di coffee shop itu lah pertama kali aku melihatnya. Ia duduk tak jauh dariku, seorang diri. Kulihat ia meneguk minumannya, segelas─entahlah─sepertinya hot coffee, entah gadis macam apa yang memesan hot coffee siang-siang begini. Di mejanya berserakan berbagai barang, dompet, tas, kacamata berbingkai besar, kotak pensil, tissue, dan piring kosong dengan sisa-sisa krim di atasnya, lengkap dengan pisau dan garpu. Yang mencolok darinya adalah kuku tangannya yang berwarna orange, aku benci orange. Jemarinya memeluk sebuah sketchbook yang tidak begitu besar, A4, ya, aku yakin itu A4, ujung sketchbook tersebut ditopang di atas lututnya; sementara jemari kanannya memegang sebuah drawing pen. Sepintas ia terlihat seperti sedang menggambar, tetapi tidak, ia menulis. Ya, gadis itu menulis di atas sketchbook dengan sebuah drawing pen, kedua alat yang biasa kugunakan untuk membuat sketsa wajah di waktu senggang.

Aku meneguk moccacinoku lalu berusaha mengalihkan pandangan ke telepon genggamku dan membuka beberapa e-mail yang baru saja masuk, tapi itu hanya bertahan beberapa detik, kemudian aku mendapati diriku kembali memerhatikan gadis berkaos abu-abu kedodoran itu. Ia masih berkutat dengan sketchbooknya, kini kepalanya tampak bergoyang mengikuti musik yang diputar, bibirnya terlihat bergerak seirama dengan kata-kata yang dilantunkan sang penyanyi, ia begitu menikmatinya. Rambut hitamnya yang ikal dan diikat asal-asalan juga tampak menari mengikuti alunan musik dan gerakan kepalanya. Ia tidak cantik, well, she'd be mad if she read it, tapi begitulah pandanganku. Sejurus kemudian kepalanya berhenti bergoyang, ia menatap sketchbooknya dengan tatapan bingung, drawing pen di tangan kanannya diputar-putar melalui sela-sela jarinya─yang bercat kuku orange─lalu berhenti tiba-tiba. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat saat itu, dan benar saja, ia kemudian melempar pandangannya padaku; matanya besar, bibirnya membulat dan sedikit terbuka, aku tak tahu harus berbuat apa selain tetap menatapnya, lalu kemudian ia tersenyum. Ya, ia tersenyum. Padaku.

“Ia tidak cantik.”

Saat itu juga aku teringat ucapan Nadin, kakak perempuanku yang akan menikah Sabtu depan dengan pria tambun berwajah brengsek, "Every woman is beautiful with their own way." Saat kembali menatap gadis itu, ia telah kembali berkutat dengan sketchbooknya, akhirnya aku mengerti maksud kakakku.

Thursday, May 19, 2011

Lacuna

How happy is the blameless vestal’s lot

The world forgetting by the world forgot

Eternal sunshine of the spotless mind

Each pray’r accepted and each wish resign’d

─Alexander Pope


Eternal Sunshine of the Spotless Mind; baris ke-209 (kalo nggak salah) dari poem-nya Alexander Pope yang juga dijadikan judul dari sebuah film bergenre sci-fi romance. Seorang teman merekomendasikan film ini ke gue, dan setelah ngeliat ratingnya yang cukup bagus maka gue download lah buah karya Michel Gondry yang diperankan oleh Jim Carrey dan Kate Winslet ini.


Yang menarik dari film ini bukan cuma alurnya yang maju mundur (dan agak sedikit ngejelimet buat orang yang kebanyakan nonton film comedy-nya Adam Sandler seperti gue), tapi juga kecanggihan teknologi yang digunakan oleh Lacuna Inc yang kemudian sukses membuat gue berharap benar-benar ada tempat seperti itu di Jatinangor.


Apa sih, Nge, Lacuna Inc itu?


Para pembaca yang budiman, Lacuna Inc adalah sebuah tempat yang menyediakan jasa penghapusan memori tentang seseorang di dalam ingatan lo; segala sesuatu tentang orang itu akan dihapus─yes, include every single pain they’d ever made─dan lo nggak akan kenal dia lagi. Setelah proses penghapusan selesai, Lacuna akan mengirimkan surat ke orang terdekat dari orang yang sudah lo hapus, dan bentuk suratnya kayak gini:



Charlie Brown said, as been quoted by Raditya Dika in his book, “Nothing takes the taste out of peanut butter quite like unrequited love.” dan mungkin, orang-orang yang datang ke Lacuna udah nggak bisa lagi ngerasain peanut butter di lidah mereka. Entah karena dikhianati, dibohongi, disia-siakan. “Mungkin itu ya, ketika lo ngerasa disia-siain sedemikian rupa, lo akhirnya jadi ngerasa semacam punya defense mechanism. Lo akhirnya nyadar.” (Raditya Dika, 2010) dan perwujudan defense mechanism yang dimiliki orang-orang dalam film ini adalah dengan pergi ke Lacuna; mereka sadar bahwa diri mereka jauh lebih berharga dibanding terus menerus membiarkan masa lalu menyiksa mereka perlahan-lahan. *batuk*


Tapi nggak semua memori bisa benar-benar terhapus, bahkan dalam sebuah film. Saat Joel (Jim Carrey) berusaha menghapus Clementine (Kate Winslet), penghapusannya tidak berjalan dengan sempurna karena the feeling he had for her was much stronger than the disappointment that told him to do the memory-erasing. Saat proses penghapusan selesai, Joel nggak lagi mengenal Clementine, tapi perasaan dia untuk Clementine masih ada.


Mungkin, saat Joel berusaha keras menghapus Clementine tapi ternyata perasaan itu masih sedemikian kuat dan tetap bertengger di tubuhnya, yang sebenarnya terhapus hanya rasa sakit yang pernah Clementine buat, hingga akhirnya Joel tetap menyayangi Clementine dengan tulus dan ikut bahagia saat dia bahagia; walaupun Joel nggak termasuk dalam kebahagiaan itu.