Tuesday, August 16, 2011

Selasa Sapu Lidi

Sesuai dugaan, dosen itu nggak datang.

"Gue nggak mau skip kelas pagi lagi," begitu niat gue saat liburan menyambut semester baru, dan sejauh ini omongan itu masih gue tepati. Kelas pagi yang selama dua semester pertama hampir selalu gue skip, kali ini di awal semester gue mencoba untuk nggak melakukannya lagi. Dengan alasan... nggak tau dengan alasan apa, gue pengen aja kuliah lempeng.

Semester ini gue kuliah 4 hari, dan 3 dari 4 hari tersebut diawali dengan kelas 07.30. Bangun jam 10 aja udah alhamdulillah banget.

Hari pertama berlangsung dengan lancar, gue sukses bangun pukul 06.30 dengan jumlah waktu tidur yang kurang lebih hanya 3 jam. Sekarang adalah hari kedua, gue bangun di jam yang sama, bedanya, udara Jatinangor pagi ini begitu mendayu-dayu dan memaksa gue untuk menarik selimut sekali lagi. Gue menyerah.

"Kalo lo selalu lembek pada hidup, maka hidup akan keras pada lo suatu hari nanti. Mau idup susah?"
Kata-kata dari motivator terkenal-yang sebenarnya nggak gue suka-bergaung di dalam kepala saat gue mulai memejamkan mata dan menenggelamkan diri ke dalam selimut hijau gue yang hangat. Akhirnya gue bangun dan berangkat.

Dan dosennya nggak datang. Tapi gue tetap masih disana (bahkan setelah 1 jam), duduk di teras gedung bersama beberapa classmates yang kekeuh untuk nunggu dosen itu. Terlalu malas untuk membuka mulut dan ikut bercakap-cakap, gue memutuskan untuk menyumpal telinga dengan earphones dan menekan tulisan shuffle pada layar iPod.
I found you, something told me to stay
I gave in to selfish way..
Gue mengencangkan volumenya sambil menguap, nggak mau mendengar apapun yang ada di sekitar, tapi tetap ada suara dari luar yang berhasil menyentuh gendang telinga gue; srek.. srek.. Ah, rupanya suara sapu lidi besar yang bergesekan dengan konblok-konblok di teras gedung. Semakin lama suara itu terdengar semakin jelas, ternyata seorang bapak tua dengan rompi berbahan parasut lah yang mengendalikan sapu itu. Ia mengenakan topi yang sudah usang, di bagian belakang rompi oranyenya terdapat tulisan 'fakultas sastra'.

Beliau berjalan mendekat. Gue, sekali lagi, menguap.

Tujuan keberadaannya, jelas, untuk membersihkan pekarangan yang terselimuti dedaunan kering, maka perlahan-lahan konblok abu-abu di hadapan gue mulai terlihat, sebagai gantinya, tumpukan dedaunan di beberapa sudut terus bertambah.

Kakinya yang diselimuti sepatu boot karet kembali mengeksplorasi halaman, berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Lalu angin berhembus.

Beliau sudah berjalan menjauh saat gue mulai mengamati pergola usang yang memayungi sebagian teras. Angin kembali berhembus, menjatuhkan daun-daun kering yang sedari tadi duduk manis di permukaan pergola; dan saat pergola sudah mulai bersih, angin kembali berhembus, menggoyangkan dahan pepohonan hingga daun-daun keringnya rontok, sebagian langsung mendarat di permukaan konblok, sisanya bertengger di atas pergola seolah mengisi ulang posisi dedaunan sebelumnya, kemudian mengantri untuk dijatuhkan ke tanah.

Gue kembali menguap.

Akhirnya gue menyerah dan memutuskan untuk kembali kostan, mau melanjutkan tidur sebagai ganti durasi tidur gue tadi malam yang cuma 3 jam. Gue nggak peduli jika si dosen akan datang pada akhirnya; I don't want to wait any longer.
How I miss someone to hold
When hope begins to fade
Dalam perjalan pulang, gue sempat berfikir tentang bapak tadi. Kalau siklus tersebut terus berulang, sampai kapan beliau terus disana? Atau menunggu hingga nggak ada lagi daun kering yang bisa dijatuhkan dari pepohonan?