Tuesday, October 25, 2011

I Woke Up in the Morning and Realized that I Didn't Love Her
By Rinintha Anggie

Gue menekan tombol snooze di handphone dengan enggan, lalu membuka sebuah pesan singkat darinya. Selamat pagi, seperti biasa; bedanya, kali ini gue nggak merasakan apa-apa.
Rasanya kasur mendekap gue terlalu erat, sampai-sampai gue begitu malas untuk beranjak. Gue kembali meraih handphone yang tergeletak di samping bantal, sekali lagi, membaca pesan singkat darinya. Isinya sama persis seperti hari-hari kemarin, gue bahkan nggak akan tahu kalau ia hanya men-copy-paste pesan lamanya. Pesan yang selama berbulan-bulan selalu mampir di handphone gue setiap paginya dan membuat gue tersenyum di atas bantal dengan mata yang masih separuh terpejam. Pesan yang mengandung jampi-jampi mahadahsyat hingga bisa merubah mood gue menjadi bagus sepanjang hari. Dan pagi ini, hambar.

Hal buruk? Nggak, nggak ada hal buruk yang terjadi kemarin atau tadi malam. Semuanya baik-baik saja. Kemarin gue menemuinya dan semuanya masih sama seperti sebelumnya. Gue masih melihat tawa lepasnya, dia masih mendengarkan cerita-cerita gue dengan senyuman manis tersungging di bibirnya. Dan masih melekat jelas di ingatan gue, bagaimana ia melantunkan sebait lagu yang berlirik, "How could I face these faceless days, if I should lose you now?" sambil menatap gue dengan tatapannya yang hangat; dan bagaimana nggak-karuan-nya perasaan gue saat itu terjadi.
Hanya saja, I woke up in this morning and realized that I didn't love her anymore.

2 comments:

  1. maksudnya HIM yah? bukan HER..

    ReplyDelete
  2. 'Her' kok. It's not always me who tells the story, kan. I can be anyone in any gender ;)

    ReplyDelete