Monday, January 2, 2012

Tiba-tiba gue terdampar di kantin rumah sakit Pelni. Makan nasi setengah porsi dengan capcay. Ngirit. Salah deng, nggak punya duit. Nggak lupa pakai sambal yang banyak biar nggak terasa lauknya cuma capcay.

Lalu pandangan gue mulai kabur. Iya, air mata. Basah. Buram. Kemudian kembali jelas setelah semuanya meluber ke pipi.

Gue nggak suka rumah sakit. Iyalah, siapa juga yang suka rumah sakit. Terlebih lagi ini rumah sakit tua, dan berkali-kali gue berurusan dengan ICU rumah sakit ini. Tahun 1996 untuk kali pertama; dan kehilangan terbesar untuk pertama kalinya juga terjadi di ICU rumah sakit ini. Gah.

ICU selalu begitu. Bikin merinding. Kursi-kursi berjejer di seberang pintu masuknya, gue memilih duduk dekat tangga. Ada beberapa bilik untuk keluarga beristirahat, TV, coffee machine dan gelas-gelas plastik di atasnya. Bukan, bukan gelas plastik putih dengan totol-totol merah, gue benci gelas itu.

Lalu gue ingat cerita Om gue seputar kepergian Eyang Uti di ICU rumah sakit ini 16 tahun lalu. "Om lagi nyoba nahan nangis pas Eyang nggak ada, eh kamu nanya, 'Om, Eyang kenapa?' nggak jadi ketahan nangisnya." Bodoh. Gue meneguk air mineral yang gue bawa dari rumah.

Dan sore harinya tiba-tiba gue sudah duduk manis di sebuah bengkel pinggir jalan; di daerah Slipi, tempat gue tumbuh sebagai bocah yang cerewet dan pecicilan. Maka saat gue bersandar di bangku bengkel itu, beberapa orang yang lewat di trotoarpun menyapa gue.
"Anggie?"
"Mbak Anggie ya?"
"Wah, ini Anggie yang ceriwis itu?"
Kayak artis ya; padahal yang nyapa cuma Om Tetangga, Mas Slamet tukang gorengan sama Mbak April yang buka warung dekat bengkel.

Di seberang jalan banyak gerobak makanan, salah satunya bubur kacang ijo. Gue langsung ingat tukang bubur kacang ijo di Nangor. Rp4000,- terbaik yang pernah gue keluarkan ya untuk beli bubur kacang ijo disana. Nikmat, dan yang paling penting, banyak.

Anginnya sepoi-sepoi. Adem. Gue selalu suka bengong-bengong bego; merhatiin ujung crocs ungu gue yang terkena noda oli, orang-orang yang lewat di trotoar, klontengan suara kunci inggris, pohon goyang-goyang, suara bajaj. Biasanya pikiran bodoh seperti 'gue mau jadi Ogre' tiba-tiba melintas setelah rutinitas bengong-bengong bego selesai. Dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menanggapi racauan absurd gue dengan baik. Tunggu, 'orang-orang'? Rasanya bukan plural.

Baterai handphone gue sudah memerah. Gue belum mau pulang. Lalu bertanya-tanya kabar orang-orang di rumah sakit. Nangis lagi.

1 comment: