Wednesday, February 1, 2012

Hari ke-182

Aroma yang ditinggalkan hujan saat ia bercinta dengan tanah masih kian tercium. Nikmat.
Kubiarkan mereka mengelilingiku. Berdesak-desakkan. Kuharap apa yang kupunya akan cukup untuk mereka.
"Boleh aku bertanya?" ujarku, akhirnya.
Mereka mulai berguguran. Satu disusul lainnya.
"Tentu, Tuanku." Satu lagi terjatuh. Aku meringis.
"Mengapa kalian selalu berguguran setelah bermandikan cahaya?"
"Kami," ia tampak linglung. "tak mau hidup tanpa cahayamu, Tuanku." lalu tumbang. Sayap halusnya terlepas; kemudian lunglai di tengah kerumunan laron lainnya.
"Lebih baik kami yang meninggalkanmu terlebih dahulu, Yang Mulia Lampu Pijar," timpal satu yang tersisa. Ia terlihat mabuk. Bahagia. "sebelum kau meredup dan berbalik meninggalkan kami." lalu jatuh.