Wednesday, December 5, 2012

Review Habibie & Ainun; Dan Curhat Colongan

Berekspektasi terlalu tinggi, gue merasa jatuh saat membaca buku ini. Salut untuk their everlasting love, tapi penyampaian yang dipakai dalam buku ini cenderung kurang; rasanya kayak lo punya bumbu dapur sedemikian banyak tapi yang dipakai cuma bawang putih doang. Justru yang paling menonjol dalam buku ini adalah Habibie's undoubted incredibility, instead of his story with his wife.

What I like the most is the quotes from Ainun's Setengah Abad BJ Habibie, yang kemudian membuat buku ini seolah-olah ditulis bersama dengan Ibu Ainun. Sayangnya, terlalu banyak pengulangan. Bagian yang sudah dikutip seharusnya nggak perlu diceritakan ulang.

The most pathetic part of the book is the punctuation. Pada dasarnya semua orang berhak menulis buku dan mereka nggak selalu harus punya background sebagai orang bahasa, tapi untuk pihak penyunting, menurut gue pribadi, ada keharusan untuk punya latar belakang sebagai orang bahasa; atau paling enggak orang yang mengerti tentang kalimat atau minimal tanda baca.

Overall.. satu tahun terakhir ini gue memang nggak bisa menye-menye sama love story sih, jadi, love story ya, love story. Sebenernya mah ya, "You don't know what you've got till it's gone." If you know what you've got, akan ada banyak orang yang menulis saat istri/suami atau tunangan atau pacarnya masih ada. Atau simply make him realize that it makes you happy just by staring at him, sekalipun dia keringetan kucel becek abis main futsal. Lupakan. Obliviate.

But still, I wish the movie is much better.

No comments:

Post a Comment