Friday, July 5, 2013

Pesimis? Realistis?

Akhir-akhir ini gue sering mimpi buruk. Beberapa hari lalu gue mimpi dikejar Rottweiler, uler sawah, sama buaya sekaligus. Kemarennya gue mimpi kaki gue nyangkut di eskalator. Sebelumnya lagi gue mimpi rumah gue kebakaran. Tadi malem gue mimpi dikepung zombie.

Gue berdoa kok sebelum tidur. Nggak, nggak ketuker sama doa makan.

***

Orang-orang udah pada lulus, kerja, nikah, bahkan punya anak; mereka udah tau mau jalan kemana. Sebagian besar di sekeliling gue udah nulis skripsi, sisanya mikirin judul skripsi. Gue? Nentuin penjurusan aja minta voting orang-orang.

I've never felt this close to the real world. Gue masih mau main-main, kuliah cuma untuk dinikmati, nonton film sampai mabok, jadi tokoh di dalam buku cerita, tidur sampai siang. Bahkan nilai yang semula nggak pernah gue anggap penting sekarang jadi penting. Ternyata nilai penting.

Dua semester lalu seorang dosen pernah bilang ke gue kalau gue bisa aja lulus 3 tahun. Mungkin dia tau dosen wali gue terlalu sibuk ngurusin hidupnya sendiri, so she let herself to be the one who encouraged me to take the chance.
"Mau kan lulus cepet?" she said.
Gue bahkan nggak bisa jawab pertanyaannya saat itu. Emang gue mau lulus cepet? Buat apa? Setelah lulus, gue ngapain? Kan enakan kuliah, dibuat takjub dengan pemikiran-pemikiran dosen tertentu yang mind-blowing. Belom lagi kalo lulus nanti, gue nggak punya kosan lagi. Itu salah satu hal yang paling menyedihkan yang akan terjadi: I'll lose my solitude.
Ngeliat muke gue, si dosen ngelanjutin, "Enggak, ya?"

Dulu gue fikir kerja itu gampang. Kerjain aja apa yang lo suka, nanti juga akan jadi duit. Sekarang gue sadar bahwa nggak semua yang lo kerjain wholeheartedly akan mendatangkan hasil yang bagus. Entah gue berada di tengah-tengah keputusasaan atau justru sebuah titik terang, I just realized that I've been doing what I love wholeheartedly but the result is not worth it. Contoh paling sepele tapi nyata, gue suka banget gambar dari kecil, tapi gambar gue nggak pernah bagus. Practice makes perfect itu bullshit, Saudara-saudara. Or it simply doesn't happen to me.

Dari dulu gue selalu bisa membayangkan bahwa gue akan jadi tipikal orang yang bisa bilang "I marry my job." Gue nggak akan keberatan punya anak di usia yang nggak terlalu muda karena terlalu sibuk sama pekerjaan. Tapi nyatanya kemampuan gue nggak memadai di bidang yang gue suka, how can I even get the job?

Segelintir temen gue mulai ngomongin soal nikah. Mereka tau apa soal nikah. Dulu gue suka berkhayal tentang outdoor wedding party dengan pemain saxophone tunggal. It turns out that I just want the party, not the marriage. Belum lagi punya anak. They're in love, for God's sake! Semua yang ada di pikiran mereka segala sesuatu yang manis-manis: anak bayi yang lucu, baju bayi yang lucu, susu bayi yang harganya nggak lucu. They have no idea how wild the kids when they are 3 yo. Gaarhh! Gaaaaarrrrh! Dengan ingus disana-sini, they start to throw you with toys.

Sometimes I tell myself that I'm not that close to the real world. Gue nggak sedeket itu dengan pekerjaan, gue bisa ambil S2 dulu kalo gue belom siap, but my parents refuse. Mereka bilang gue butuh pengalaman; dan mereka bilang lulusan S1 dengan pengalaman lebih gampang cari kerja ketimbang lulusan S2 yang belum punya pengalaman. And that I'm not that close to the other things.

***

Gue suka jalan kaki malem-malem di Nangor, sendirian, sekedar beli kopi atau roti bakar; realizing that I could never be any younger than today. Di Jakarta nanti setelah lulus, gue nggak akan bisa beli kopi sendirian di warung. Kalo mau kopi tinggal bilang, nanti tau-tau ada di samping tempat tidur.

Mungkin beberapa tahun lagi gue baca postingan ini terus ketawa sendiri. Entah ketawa ngenes karena gue beneran nggak dapet job di bidang yang gue suka atau justru sebaliknya. I wish it'll be the second one.

Aneh juga, ternyata gue nggak pernah minum kopi di rumah.