Saturday, March 5, 2016

Apa-kata-orang-isme

Selama 23 tahun, saya dibesarkan dalam lingkungan orang-orang fanatik apa-kata-orang-isme.

Sebenarnya sih, saya sendiri nggak pernah peduli kata orang, jadi entah lingkungan saya benar-benar fanatik atau masih dalam tingkatan normal seperti manusia pada umumnya tapi tampak fanatik dari kacamata saya. Seperti yang saya tulis di postingan ini, saya nggak akan nengok let alone sakit ati kalau orang membicarakan hal buruk tentang saya, selama saya sendiri nggak merasa begitu. Sialnya, hal sebaliknya juga berlaku. Misalnya, meskipun 20 temen saya bilang saya mampu melakukan sesuatu--wait, teman saya nggak nyampe 20--meskipun 7 teman saya bilang saya mampu, tapi kalau si hati kecil tukang ngeyel ini bilang nggak mampu, saya nggak akan jalanin. Lemah, memang.

Jadi saat sadar bahwa saya dibesarkan dalam lingkungan fanatik apa-kata-orang-isme, rasanya bak eureka effect.
Oh, ternyata ini yang bikin saya dicap tukang bantah.
Oh, ternyata ini yang bikin saya dan beliau jarang akur.

Dari serentetan hal yang terjadi, puncak epiphany-nya adalah saat saya hendak pergi bersama beberapa teman lawan jenis. Beliau bilang, "Hati-hati, temenannya yang bener," seperti ujaran orang khawatir pada umumnya. Saya nyaris mengangguk saat beliau melanjutkan, "jaga nama baik keluarga."

Para penganut apa-kata-orang-isme menyembah satu dewa, Citra. Nama lengkapnya Citra Mereka Di Mata Orang Lain. Yes, si Citra ini yang mereka sembah, mereka agung-agungkan, mereka sayangi dan jaga dengan baik, sampai kadang melupakan apa yang sebenarnya harus mereka jaga.

"Di mana-mana," saya balas. "'jaga diri' dulu, baru 'jaga nama baik keluarga'."

No comments:

Post a Comment